'Madre', Ketika Sejarah Hidup Berubah dalam Sehari




Film Madre (Facebook MadreTheMovie)




Film Madre (Facebook MadreTheMovie)



VIVAlife- Mengubah hidup memang tak semudah membalik telapak tangan. Namun, jika takdir menghendaki, hidup bisa berubah hanya dalam semalam.

Itu yang terjadi pada Tansen (Vino G Bastian), seorang pemuda

gimbal pecinta kebebasan, yang mempertaruhkan hidupnya pada gulungan ombak. Tansen seorang surfer, hidupnya tak terikat selain pada papan seluncur dan laut.


Mendadak, ia mendapat warisan dari neneknya yang berdarah India dan kakeknya seorang keturunan China. Mereka mewariskan sebuah kunci, yang membawa Tansen ke sebuah toko roti tua di bilangan Jalan Braga, Bandung, Tan de Bakker. Di sana, Tansen mendapat kejutan lagi. Kunci unik itu ternyata untuk membuka rantai kulkas kuno, yang di dalamnya, terletak harta paling berharga milik toko itu yakni, biang roti bernama Madre.


Tak ayal, perubahan mendadak itu mengejutkan Tansen. Pada blog

pribadi, ia mencurahkan kisah hidup yang membawanya dari Bali

terdampar di kota besar Bandung. Sampai akhirnya ia bertemu Madre,

sebongkah adonan berusia puluhan tahun yang menurut Pak Hadi (Didi

Petet), penjaga Tan De Bakker, bersifat layaknya manusia. Harus diberi

makan setiap hari, dirawat, ‘dihidupkan’. Madre-lah yang menjadi nyawa

bagi sepotong demi sepotong roti yang dihasilkan Tan De Bakker.


“Saya cari di Google, kata ‘Madre’ itu ternyata berasal dari bahasa

Spanyol, artinya ‘ibu’. Madre, Sang Adonan Biang, lahir sebelum ibu

kandung saya. Dan, dia bahkan sanggup hidup lebih panjang dari

penciptanya. Mengerikan,” tulis Tansen pada blog-nya.


Baginya, mungkin Madre memang mengerikan, namun seorang perempuan China cantik bernama Meilan Tanuwidjaja (Laura Basuki) menganggapnya keajaiban.


Keduanya pun dipertemukan dengan Madre. Sementara Tansen menganggap roti dengan adonan biang sekadar enak, Mei memperlakukannya seperti hal yang belum pernah dimakan sebelumnya. Mendadak, ia memunculkan ide. Seratus juta rupiah untuk membeli Madre. Sontak, tanpa berpikir panjang Tansen pun setuju. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa berkeliling dunia mencari ombak tertinggi. Namun di sisi lain, Pak Hadi dan empat karyawa Tan De Bakker, berduka mendalam saat tahu akan kehilangan Madre.


Namun di saat hari penjualan tiba, Tansen mendadak menghilang. Ia

memilih menyerahkan Madre pada tangan yang lebih memahaminya,

sementara ia kembali pada kebebasan. Uniknya, ternyata justru di

situlah konflik di perjalanan hidupnya dimulai. Dengan kedatangan Mei

ke Bali, dan satu kata kunci: keseimbangan.


“Semua orang kalau ditanya pengennya hidup kayak gini. Bebas, nggak ada masalah. Tapi hidup kan perlu tanggung jawab, perlu tantangan, keseimbangan. Kalau nggak, nanti kamu bakal jatuh ke satu sisi,” ucap Mei.


Kata-kata itulah yang akhirnya memenuhi benak Tansen. Dari penakluk

ombak, ia kembali terdampar ke sebuah bangunan tua, toko roti yang

telah bangkrut. Perlahan, idealismenya dipenuhi soal Madre. Akankah ia

mampu membuat Tan De Bakker bertahan di tengah derasnya industri roti dengan ragi instan yang bisa menjangkau setiap penjuru daerah? Dan bagaimana akhir kisah Tansen yang hari demi hari merasakan kenyamanan bersama Mei?


Film garapan sutradara Benni Setiawan ini menambah panjang daftar film yang diadaptasi dari novel karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Mirip seperti

novel-novel Dee yang sarat dengan konflik dan romansa, begitu pula

film Madre. Perjalanan emosi menuju konflik puncaknya, tidaklah mulus. Penonton seperti diaduk-aduk melalui konflik seperti proses adonan roti. Sejak di awal permulaan film ini, konflik mulai bisa dirasakan. Namun, semua konflik itu berpusat pada satu: Madre.


Uniknya, konflik dan romansa yang tersaji tidaklah membosankan karena Benni juga menambahkan unsur humor yang mengundang gelak tawa.


Meski tak semua penonton paham soal kuliner dan kompleksnya sejarah biang roti, namun film ini mampu memunculkan tema itu dengan renyah dan enak digigit dari setiap sisi, baik itu komedi, percintaan, maupun konflik idealismenya. Seakan-akan, film Madre menyimpan ‘biang’ tersendiri yang membuatnya berbeda dengan film-film lain. Apalagi, belum pernah ada film bertema serupa di Indonesia. Naturalnya peraduan akting Vino dengan Didi Petet serta Laura Basuki, menambah daya pikat film yang akan rilis pada 28 Maret 2013 mendatang ini. Siap mencicipi Madre?