Nino Fernandez (VIVAnews/Tri Saputro)
Nino Fernandez (VIVAnews/Tri Saputro)
VIVAlife - Mendadak Nino Fernandez harus memerankan karakter playboy andal. Tak ayal, untuk memerankan Jo dalam film Honeymoon, ia harus belajar mencintai dunia malam.
Selama sepekan, ia bahkan melakukan observasi ke klub-klub malam di daerah Kemang, Jakarta Selatan.
"Klub kecil saja, karena aku nggak suka clubbing. Masuk sana juga nggak nyaman," kata Nino saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta.
Bersama teman-temannya yang memang playboy, ia mengamati tindak tanduk para pecandu clubbing di klub malam. Bagaimana mendekati perempuan, dan merayu mereka. Nino juga banyak bertanya dan belajar dari teman-temannya yang memang sudah biasa dan berpengalaman merayu wanita.
Ia bahkan pernah mencoba mempraktikkan, merayu perempuan yang sedang berdansa. "Pernah coba, tapi nggak berhasil. Memang susah sih," katanya sambil tertawa.
Secara nyata dan keseharian, Nino memang berbeda jauh dengan karakter Jo. Ia jarang keluar rumah dan tidak pernah clubbing. Bintang film Bidadari-bidadari Surga itu memilih langsung pulang setelah beraktivitas di luar rumah.
"Susah, karena nggak ada yang sama karakternya," komentarnya. Namun, ia tetap mengambil hikmah dari karakter playboy dalam film Honeymoon itu. "Mudah-mudahan bisa menghibur, ada pesannya juga. Kita manusia nggak pernah puas dengan yang dimau. Makanya harus ada balance-nya," katanya.
Memang, dalam film itu, Jo akhirnya menemukan jawaban yang membuat hidupnya lebih berarti.
Meski hanya dalam film, Nino tak keberatan dipandang sebagai playboy. Ia justru merasa bahwa aktingnya berhasil. Ia pun tak perlu menjelaskan, karena orang-orang dekatnya pasti sudah tahu, itu hanya sekadar tuntutan peran.
"Profesi kami harus memainkan karakter yang berbeda-beda. Publik harus percaya akting saya supaya pesannya dapat. Kalau orang terdekat dan keluarga sih sudah tahu ini hanya profesi," lanjutnya. (art)