Melanie Subono Jadi Duta Kampanye UNICEF




Melanie Soebono (Tasya/ VIVAlife)




Melanie Soebono (Tasya/ VIVAlife)



VIVAlife - Menjadi aktivis pembela Hak Asasi Manusia dan aktivis lingkungan adalah hal yang sangat melekat pada diri Melanie Subono, artis sekaligus musisi Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu selebriti Tanah Air yang sangat berani menyuarakan aspirasi dan kritik pada pemerintah yang banyak ia ungkapkan di media sosial.

Baru-baru ini ia didapuk menjadi Duta Kampanye UNICEF bertajuk "Tinju Tinja" yang dilakukan untuk memerangi perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Indonesia.


Lalu, apa alasannya Melanie mau menjadi Duta UNICEF?


"Kenapa nggak? Gue memang paling concern sama isu kebersihan dan kesehatan. Buat gue, ini kesempatan yang oke banget. Basically apa yang ditawarkan sangat sejalan sama gue," ujar anak Adri Subono itu kepada VIVAlife saat ditemui di acara "Peluncuran Kampanye 'Tinju Tinja' Untuk Memerangi Buang Air Besar Sembarangan di Indonesia" di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 19 November 2014.


Melanie juga menceritakan awal mula UNICEF menawarkannya kesempatan sebagai Duta Kampanye Tinju Tinja. Menurut dia, awalnya ia benar-benar tidak tahu menahu bahwa BABS adalah masalah yang sangat penting yang dihadapi Indonesia.


"Setelah dikasih data dan fakta bahwa banyak yang meninggal karena masalah BABS, jujur saya kaget ternyata ada masalah seperti ini," ujarnya.


Dari situ ia mengaku tergerak menyosialisasikan masalah BABS lewat media sosial, karena menurut dia, banyak sekali orang yang tidak tahu akan permasalahan tersebut.


"Orang-orang nggak mempermasalahkan soal ini, karena mereka nggak tahu. Kita nggak bisa menyalahkan mereka. Yang bisa kita lakukan adalah menyosialisasikan apa yang kita tahu," katanya.


Melanie juga mengatakan bahwa ia berharap kampanye lewat media sosial ini dapat menyebarkan informasi perihal BABS, dan pada akhirnya membuat seluruh lapisan masyarakat sama-sama bergerak memerangi isu tersebut.


"Diharapkan mereka mampu mempengaruhi lingkungan dan komunitasnya serta menjadi bagian dari agen perubahan sosial," tambahnya.


Sebagai informasi, BABS adalah salah satu masalah besar di Indonesia. Berdasarkan data WHO/UNICEF Joint Monitoring Program (JMP, 2014), sebanyak 55 juta penduduk Indonesia masih memiliki perilaku BABS, yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah tertinggi kedua di dunia setelah India.


Menurut data Levels and Trends in Child Mortality tahun 2014 diketahui bahwa 370 balita Indonesia sebagian besar meninggal setiap harinya, karena penyakit yang disebabkan oleh BABS antara lain diare, pneumonia, muntaber, dan masih banyak lagi. (art)