Kematian tragis Sojin menjadi perbincangan publik. Tewasnya Sojin dikaitkan dengan ketatnya persaingan di industri hiburan Korea. Dan bahkan disebut-sebut, terdapat tingkatan dalam sistem pelatihan calon artis.
Adanya tingkatan tersebut membuat pelatihan seakan menjadi ajang kompetisi, yang kuat yang bertahan.
"Tak jarang peserta pelatihan yang sudah membentuk grup diturunkan kembali ke peserta reguler," kata salah satu perwakilan industri hiburan Korea seperti dilansir dari Ilgan Sports.
Peserta pelatihan atau calon artis yang ditampilkan di televisi terlihat glamor dan memukau. Tetapi, itu hanyalah sebagian, karena banyak lagi trainee yang hidup tidak mampu tanpa harapan masa depan.
Dan yang menyayat hati adalah banyak dari para calon artis itu yang tak mendapat bayaran dari manajeman mereka. Untuk bertahan hidup, para peserta pelatihan melakukan kerja serabutan.
"Ini akan menyulitkan bagi trainee yang tinggal jauh dari rumah mereka. Dan mereka harus bekerja paruh waktu untuk membiayai gaya hidup mereka," ujarnya.
Ditambahkan sumber, banyak peserta yang memulai di usia muda. Mereka menanamkan investasi sebagai artis, dan melepas pendidikannya demi mencapai mimpi menjadi bintang idola terkenal.
"Hal ini sangat mengkhawatirkan. Mereka terisolasi di usia muda untuk bertempur dengan masa depan yang tak pasti," ungkapnya.
Pembahasan ini menarik perhatian netizen. Mereka menganggap selama ini industri hiburan 90 persen berdasarkan pada sponsor atau keberuntungan.
"Itu dikarenakan pasar tak memberi kesempatan karier kepada orang yang benar-benar berbakat dan memiliki mimpi menjadi penyanyi," kata salah satu netizen. "TV hanya fokus dengan gaya hidup glamor selebriti. Realitanya banyak yang hidup menderita," ujar yang lain.
"Kita harus memiliki undang-undang yang melarang orang di bawah umur untuk mengikuti pelatihan. Banyak anak-anak berpikir apa yang mereka lihat di televisi adalah yang akan mereka raih," ujarnya. (one)
Di Balik Bunuh Diri Artis Cantik Korea Sojin
Ulah Artis Cantik Taiwan Mengejutkan Penonton