Daniel Mananta (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
Daniel Mananta (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
VIVAlife - Euforia olahraga badminton tengah melanda masyarakat Indonesia. Sejak ajang Djarum Indonesia Open dibuka, aktor dan presenter Daniel Mananta mengaku merindukan suasana riuh dan sorak penonton membela perwakilan Indonesia.
Tentang olahraga ini, Daniel pun memiliki kenangan tersendiri. "Badminton ini permainan waktu gue kecil, jadi nostalgia banget," ungkapnya saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta.
Dulu, bersama ayah, ibu, dan adiknya, Daniel sering menonton pertandingan bulutangkis dan mendukung Indonesia. Pemain favoritnya kala itu, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma. "Gue masih ingat, kalau Indonesia menang kami ikut merayakan, ikut bangga," lanjutnya.
Ia juga mendukung Taufik Hidayat, yang menurut dia, bisa menjadi inspirator bagi generasi muda Indonesia. Baginya, Taufik pernah mengharumkan nama Indonesia.
Sayang, Daniel tak lagi melihat antusiasme masyarakat pada bulutangkis. Suasananya, tak seriuh dahulu.
Menurut dia, mungkin itu karena orang lebih banyak tertarik menonton sepakbola. Namun, ia tak ingin masyarakat lupa bahwa bulutangkis pernah menyumbang medali emas untuk Indonesia.
"Gimana dengan acara ini kita bisa angkat lagi spirit Indonesia ke badminton," ujarnya bersemangat.
Ia berharap, masih banyak masyarakat yang percaya akan eksistensi atlet-atlet pebulutangkis di dalam negeri. Ia ingin, badminton Indonesia kembali berjaya di tingkat dunia. Dan, lagu Indonesia Raya serta bendera Indonesia, bisa berkibar bangga mengisahkan kemenangan.
"Yuk coba kita besarkan lagi sama-sama. Dari anak kecil di kompleks-kompleks, ayo kita kembali angkat raket," ajaknya persuasif.
Hanya saja, Daniel saat ini sudah tidak memiliki semangat seperti saat waktu kecil dulu untuk bermain badminton. Permainannya sekarang lebih banyak membuat shuttle cock menyangkut di net.
Kedatangannya ke Djarum Indonesia Open, juga hanya sebagai pendukung. Tak hanya secara moral, tetapi Daniel juga membuka booth Damn I Love Indonesia!, clothing line yang dimilikinya, di halaman Istora Senayan. Ia menjual berbagai merchandise bernapaskan nasionalisme Indonesia. (art)